Begitu pula dengan Ajian Wijayakusuma yang akan mengalami pembaharuan setiap tiba bulan purnama. Ajian Wijayakusuma akan menampakkan kekuatan aura dan kesempurnaannya pada pertengahan bulan purnama. Pada saat itu “Ajian Wijayakusuma” akan bekerja dan menjadikan pemakainya terlihat lebih muda.


Seorang peranormal menyarankan agar setiap tiba bulan purnama, Mbok Ijah dijauhkan dari kaum laki-laki, aroma kembang, suara gamelan, dan terpaan cahaya lampu atau bulan. Sebab, semua itu berhubungan erat dengan kehidupan Mbok Ijah di masa lalu sebagai penari Tayub atau Tledek. Dia akan bisa menemukan kembali energi yang membuatnya tetap bertahan hidup bila bersentuhan dengan salah satu dari yang disebutkan itu. Karenanya Mbok Ijah harus dikurung atau diisolasi dalam sebuah ruang kosong dan gelap sebagai simbol kematian untuk memudahkan arwahnya kembali kepadaNya.
Minah menuruti saran itu. Namun ternyata hal itu tak juga berhasil membuat neneknya mati. Bahkan setelah melewati bulan purnama kondisinya kembali segar bugar. Sepertinya si nenek mendapatkan nafas baru yang memperpanjang kehidupannya. Tubuhnya yang sudah lemah, pucat, dan matanya yang cekung mengatup berubah berbinar dan bercahaya. Kelopak matanya kembali membuka dan ada sinar di dalam bola matanya, seolah menyiratkan kehidupan di sana.
Minah pun dibuat bingung dan pusing. Bukannya dia tak senang neneknya masih hidup, tapi Minah merasa kasihan pada keadaannya. Andai saja membunuh tidak berdosa, sudah dicekiknya leher wanita tua itu!
Untuk kesekian kali Minah kembali meminta bantuan orang pintar. Kali ini seorang Kyai yang berilmu agama tinggi, namanya Kyai Anshari. Oleh sang Kyai, Mbok Ijah dibacakan surat Yasin dan doa-doa dari ayat suci Al-Qur’an.
Hampir setiap malam Kyai Anshari beserta murid-muridnya melakukan pembacaan doa di hadapan Mbok Ijah yang dibaringkan di tengah ruangan. Semua keluarganya diminta ikut membaca ayat-ayat suci untuk memudahkan jalan kematian Mbok Ijah.
Dan tampaknya konsisi Mbok Ijah memang sudah sangat kritis dan menjelang dekatnya ajal. Hal itu semakin terlihat saat menjelang tibanya bulan purnama. Kyai Anshari dan murid-muridnya semakin mengintensifkan bacaan do’anya.
Sementara itu Pardi mulai gelisah. Dia sudah tak sabar lagi ingin segera menemui Yani. Malam ini gadis itu tentu sudah menunggunya di dalam gubuk di atas bukit ujung desa. Mereka bisa kembali bercinta seperti bulan purnama lalu.
Dengan dalih mau kencing, Pardi minta diri keluar dari ruangan tempat dilakukannya ritual pembacaan do’a. Dia pura-pura menuju ke sumur. Ketika tak ada orang melihatnya, dia langsung menyelinap pergi. Tapi rupanya dia tidak sadar kalau diam-diam Kyai Anshari mengintainya dari belakang.
Pardi sudah sampai tiba di bukit tempat dia biasa berkencan dengan Yani. Tapi dia tidak melihat Yani berada di sana. Biasanya Yani suka duduk di atas sebuah batu. Pardi sudah mencoba mencarinya dengan mengelilingi bukit, tapi batang hidung Yani tak juga ditemukan.
“Yaniii…Yaniii…!?” serunya memanggil ke segala penjuru arah. Tak ada sahutan, kecuali suaranya sendiri yang menggema di udara.
Tiba-tiba dari balik sebuah pohon muncul Kyai Anshari. Kontan saja Pardi kaget dan heran.
“Pak Kyai? Bagaimana Bapak bisa sampai disini?” tanya Pardi gugup.
“Aku curiga dengan perilakumu, karena itu aku mengikutimu. Aku tahu, kamu sedang mencari seorang gadis bernama Yani. Tapi malam ini dia tidak mungkin bisa datang,” jawab Kyai Anshari kalem.
“Bagaimana Pak Kyai bisa tahu hal itu?” protes Pardi.
“Karena sebenarnya yang kamu temui itu bukan manusia. Dia penjelmaan roh Mbok Ijah. Itulah kenapa Mbok Ijah selama ini mampu bertahan hidup. Sebab, dia selalu mendapatkan energi setiap kali berhubungan intim denganmu. Dia menyedot sebagian inti kehidupan yang ada dalam tubuhmu. Tapi sekarang dia tidak akan bisa keluar lagi dari raganya, karena kami telah memagarinya dengan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Dia telah kami kurung dalam pagar gaib!” tutur Kyai menerangkan.
“Bapak jangan mengada-ada! Mana mungkin Mbok Ijah bisa berubah muda dan cantik. Dia kan sudah tua dan sekarat. Ini mustahil!” bantah Pardi, tak percaya mendengar keterangan Kyai Anshari.
“Kalau kamu tak percaya, ayo ikut aku!” sang Kyai lalu menyeret tangan Pardi mengajaknya pulang ke rumah.
Sesampai di rumah masih terlihat orang-orang duduk di ruang tengah sedang membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an. Tubuh Mbok Ijah juga masih tergolek di atas bale-bale bambu. Kyai Anshari mengajak Pardi mendekati tubuh Mbok Ijah. Dia mengangkat tangannya dan mengusap wajah Mbok Ijah yang keriput.
Ajaib, wajah itu seketika berubah muda dan cantik. Pardi pun terperangah kaget. Walau hanya sekilas perubahan itu terlihat, namun sudah dapat dipastikan bahwa itu adalah wajah Yani, gadis yang selama ini dikencani dan diajaknya bercinta di atas bukit. Karena tak kuat menahan goncangan dalam jiwanya, Pardi jatuh pingsan.
Keesokan harinya, Mbok Ijah menghembuskan nafas yang terakhir. Sementara Pardi masih terbaring lemah dan sakit. Tampaknya dia masih sangat shock dan belum bisa menerima kejadian yang dialaminya. Dia tak pernah menyangka bila yang diajaknya bercinta adalah nenek mertuanya sendiri.
Bila tidak segera mendapat pertolongan, sakit Pardi bisa bertambah parah. Karena dia telah kehilangan banyak energi dalam tubuhnya dan mengalami gangguan psikis. Tapi untunglah, berkat pengobatan dan terapi yang dilakukan Kyai Anshari perlahan namun pasti, Pardi kembali bisa normal dan sehat. Pardi kini telah berubah menjadi orang alim. Dia tak mudah lagi tergoda oleh perempuan. Itulah sedikit cerita tentang “Ajian Wijayakusuma”

Tags : , , , , , , , , , , , , ,
Categories : Misteri

No Response